[ Download ]
A. Konsep Dasar
Analisis
• Penguraian suatu pokok menjadi bagian-bagiannya, penelaahan terhadap bagian itu sendiri, dan hubungan diantaranya untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan.
• Studi dari suatu permasalahan dengan cara memilah-milah permasalahan tersebut sehingga dapat dipahami dan dievaluasi, sebelum diambil tindakan-tindakan tertentu.
Analisis Sistem Informasi
• Aktivitas untuk mengetahui pokok permasalahan dari sistem informasi yang akan dibangun berikut gambaran solusi logikannya untuk menyempurnakan sistem informasi tersebut dengan cara mengevaluasi dukungan, peran dan kinerja setiap komponen-komponennya.
• Proses menggabungkan laporan hasil survey dengan keingiann pemakai menjadi spesifikasi yang terstruktur dengan menggunakan alat bantu pemodelan tertentu.
Tujuan Analisis
Ada dua sudut pandang yang dapat dijadikan dasar untuk menentukan tujuan analisis.
Sudut pandang lama (pemakai belum mengerti komputer)
• Memahami permasalahan secara menyeluruh.
• Menentukan/membuat alternatif solusi yang dapat menyelesaikan masalah-masalah dan kekurangan-kekurangan yang ada pada sistem lama.
Sudut pandang baru (pemakai sudah mengerti komputer)
• Memahami permasalahan secara menyeluruh
• Mendefinisikan kebutuhan pemakai (apa saja yang harus dikerjakan oleh sistem yang baru untuk memenuhi apa yang diinginkan oleh pemakai)
• Mengetahui ruang lingkup produk dan pemakai yang akan menggunakan produk tersebut.
Objek Analisis
Karena objek analisis adalah sistem informasi, maka hal-hal yang harus dikaji pada saat melakukan analisis adalah semua property dari sistem informasi, yaitu komponen sistem informasi (fisik maupun logika) dan aktivitas sistem inoformasi. Objek analisis secara umum :
• Sistem organisasi sebagai lingkungan dari sistem informasi.
• Proses bisnis (prosedur atau mekanisme kerja) yang berhubungan dengan permasalahan.
• Pola aliran data dan informasi.
• Dokumen masukan/keluaran yang digunakan.
• Proses pengolahan data.
• Sumber daya perangkat keras, perangkat lunak dan sumber daya pendukung lainnya.
Tahap Analisis
Tahap analisis sebenarnya tergantung sepenuhya kepada teknik atau pendekatan yang digunakan. Secara umum aktivitas yang dilakukan pada tahap analisis adalah :
• Mempelajari permasalahan.
• Menentukan kebutuhan pemakai.
• Mengubah kebutuhan yang belum terstruktur menjadi model-model atau gambar-gambar dengan memanfaatkan metode dan teknik analisis tertentu.
• Mendokumentasikan hasil analisis.
Jika dirinci lebih jauh tahap analisis tersebut akan menjadi :
• Mendefinisikan masalah dan menentukan ruang lingkupnya.
• Mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan pemakai.
• Menganalisis komponen-komponen sistem :
o Mengidentifikasi rangkaian kegiatan yang ada dalam sistem organisasi.
o Meninjau sistem organisasi untuk melihat misi, taget, perilaku dan kinerja umum organisasi.
o Menganalisis prosedur kerja (sistem fisik) berdasarkan rangkaian kegiatan yang sudah teridentifikasi.
o Menganalisis pola aliran data dan informasi, berikut proses-proses yang berlaku terhadapnya serta output (keluaran) yang dapat dihasilkannya.
o Menganalisis dokumen (data) mencakup sumber, peran, jenis, media, distrubusi, frakuensi update, atribut, mutu (kelengakapan, ketelitian, ketepatan waktu, dan proses perolehan datanya).
o Mengidentifikasi peran sumber daya manusia, mesin, material dan sumber daya lainnya untuk mendukung sistem fisik secara terpadu.
• Mengevaluasi sistem lama :
o Mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan dan kelebihan sistem lama.
o Mengevaluasi daya dukung setiap elemen sistem, seperti data, proses, prosedur, sumber daya manusia, dan sumber daya lainnya termasuk perangkat keras dan perangkat lunak, serta permasalahannya.
• Menentukan solusi/penyelesaian masalah :
o Menetukan bagian-bagian mana dari sistem lama yang akan dikomputerkan berdasarkan kebutuhan dan keinginan user.
o Mengidentifikasikan kebutuhan sistem yang sebenarnya (system requirements), meliputi : lingkungan sistem, aplikasi apa yang akan digunakan, bentuk komunikasi data, pendekatan basis data dan sebagainya.
o Menentukan fasilitas fisik yang dibutuhkan sistem baru.
B. Pendekatan dan Alat Bantu Analisis
Pendekatan Analisis Sistem Informasi
Beberapa pendekatan teknis yang dapat digunakan pada saat melakukan analisis sistem informasi. Berikut adalah penjelasan dari pendekatan-pendekatan yang sering digunakan :
Konvensional atau Tradisional
• Fokus analisis sistem dengan pendekatan ini ditujukan pada sistem fisik yang ada dalam suatu organisasi (prosedur kerja).
• Tahap analisis biasanya diawali dengan mengamati dokumen apa yang menjadi media data atau informasi, bagiamana dokumen tersebut terbentuk, bagaimana dokumen tersebut mengalir dari satu bagian ke bagian yang lain, proses apa yang terjadi pada dokumen tersebut dan seterusnya.
• Hasil analisis digambarkan dengan menggunakan simbol-simbol flowchart (standard ANSI) untuk memodelkan hasil analisisnya, misalnya :
o prosedur lama (manual) digambarkan dngan menggunakan flowmap
o prosedur baru yang diusulkan digambarkan dengan menggunakan flowmap dengan memasukkan proses-proses komputer didalamnya.
Berorientasi Aliran Data atau Fungsi
• Sudut pandang pengembangan sistem pada pendekatan ini difokuskan pada aspek fungsional dan perilaku sistem.
• Pada aspek fungsional, pengembang harus mengetahui fungsi-fungsi, atau proses-proses apa saja yang ada dalam sistem, data apa yang menjadi masukannya, dimana data tersebut disimpan, transformasi apa yang akan dilakukan terhadap data tersebut, dan apa yang menjadi hasil trasnformasi.
• Untuk aspek perilaku sistem, pengembang harus mengetahui keadaan (state), perubahan (transition), kondisi (condition), dan aksi (actio) dari sistem.
• Salah satu metode yang paling populer untuk pendekatan ini adalah Analysis Terstruktur (structured Analysis) yang dikembangkan oleh Tom DeMarco {1976}, chris Gane dan Trish Sarson {1976}, dan Edwad Yourdon {1980).
Berorientasi Struktur Data
• Analisis sistem dengan pendekatan ini difokuskan pada struktur data dari dokokumen masukan/keluaran yang digunakan dalam sistem.
• Struktur dari dokumen tersebut kemuadian dinyatakan secara hirarki dengan menggunakan konstruksi sequence, selection dan repetition sampai terlihat proses pembentukannya.
• Beberapa metode pengembangan sistem berorientasi struktur data ini diantaranaya adalah :
o Data Structure System Development (DSSD)
Diperkenalkan pertama kali oleh J.D Warmer {1974} dan kemudian oleh Ken Orr {1977} sehingga sering disebut juga meode Warnier-orr.
o Jackson system Development (JSD)
Dikembangkan oleh M.A Jackson {1975) dngan menggunakan perangkat pemodelan yang disebut structure digaram dan sistem spesification diagram.
Berorientasi Objek
• Pendekatan berorientasi objek memandang sistem yang akan dianalisis sebagai suatau kumpulan objek yang berkorespondensi dengan objek-objek dunia nyata.
• Pada pendekatan ini, informasi dan proses yang dipunyai oleh suatu objek “dienkapsulasi” (dibungkus) dalam satu kesatuan.
• Beberapa metode pengembangan sistem yang berorientasi objek ini diantaranya adalah :
o Object Oriented Analysis (OOA) dan Object Oriented Design (OOD) dari Peter Coed dan Edward Yourdon {1990).
o Object Modelling Technique {OMT} dari James Rumbaugh, Michael Blaha, William Premerlan, Frederick Eddy dan William Lorensen {1991}
o Object Oriented Software Engineering (OOSE) dari Ivar Jacobson [1992].
o Metode Booch dari Grady Booch [1994]
o Syntropy dari Steve Cook dan John Daniels [1994].
o UML (unified Modeling Language) dari James Rumbaugh, Grady Booch dan Ivar Jacobson [1997]
Alat Bantu Analisis Sistem Informasi
Ada beberapa alat bantu untuk memodelkan hasil analis sistem informasi. Berikut alaah perngakat pemodelan yang digunakan pada metode konvensional dan Analisis Terstruktur.
Pendekatan Konvensional
• Flowmap
Digunakan untuk menggambarkan prosedur kerja secara fisik. Menggunakan simbol-simbol tertentu yang sudah dibakukan oleh ANSI (American Nasional Srandard Institute) yang dikelompokkan menjadi :
o simbol dasar
o simbol input/output
o simbol khusus
o simbol tambahan
• Pola Aliran Data
Sebenarnya bukan merupakan alat pemodelan yang baku. Digunakan untuk menggambarkan aliran data (dokumen) antar bagian organisasi atau antara organsisasi dengan lingkungan luar.
Analisis terstruktur
• Diagram Aliran Data (Data Flow Diagram atau DFD)
digunakan untuk menggambarkan aliran data dalam sistem, sumber dan tujuan data, proses yang mengolah data tersebut, dan tempat penyimpanan datanya. Simbol-simbol yang digunakan DFD :
o Simbol untuk menggambarkan proses
o Simbol untuk menggambarkan aliran data
o Simbol untuk menggambarkan sumber dan tujuan data (entitas eksternal, source/sink)
o Simbol untuk menggambarkan tempat penyimpanan data (data stored)
• Kamus Data (Data Dictionary)
• Digunakan utuk mendeskripsikan struktur dari data atau informasi yang mengalir (ada) dalam sistem.
• Spesifikasi Proses (Process Specification atau P-Spec)
Digunakan untuk menggambarkan deskripsi dan spesifikasi dari setiap proses yang ada pada sistem. Biasanya untuk prose atomik.
• State Transition Diagram (STD)
Digunakan untuk menggambarkan perilaku sistem. Dan biasanaya untuk sistem waktu nyata (real time)
• Diagram E-R
Digunakan utnuk menggambarkan hubungan (relationship) antara entitas dilihat dari aspek datanya (atau hubungan antar tempat penyimpanan).
C. Analisis Terstruktur
Pengertian
• Sekumpulan petunjuk dan perangkat komunikasi grafis yang memungkinkan analis sistem mengganti spesifikasi fungsional klasik dengan spesifikasi yang baru sehingga pemakai dapat membaca dan memahaminya.
• Suatu metode untuk memodelkan sistem berbasis komputer berdasarkan aliran data (informasi). Pada metode ini, semua fungsi sistem direpresentasikan sebagai sebuah proses transformasi informasi yang hasilnya ditujukan untuk entitas-entitas eksternal.
• Untuk menggambarkan aliran informasi dan transomasi yang ada dalam sistem, digunakan suatu teknik penyajian grafis yang disebut DFD (Data Flow Diagram).
• Dengan DFD, sistem dapat direpresentasikan pafa sembarang tingkat abstraksi sehingga representasi rincian aliran informasi dan fungsi tergambarkan secara bertingkat.
Tahap Analsis Terstruktur
Pendekatan Lama
• Buat DFD logika sistem lama yang ekuivalen dengan DFD fisik.
• Buat DFD logika sistem baru berdasarkan DFD logika sistem lama.
• Gambarkan DFD fisik sistem baru yang ekuivalen dengan DFD logika.
Pendekatan Baru (modern Structure Analysis)
• Buat diagram konteks dari sistem dan penjelasannya (statement of purpose).
• Daftar semua kejadian dari konteks.
• Buat DFD logika sistem baru berdasarkan daftar kejadian dari konteks dan kebutuhan pemakai.
• Tentukan lingkungan dari sistem baru dan kebutuhan lainnya.
Perangkat Pemodelan Analisis Terstruktur
a. Diagram Aliran Data (Data Flow Diagram)
• Diagram untuk menggambarkan aliran data dalam sistem, sumber dan tujuan data proses yang mengolah data tersebut dan tempat penyimpanan datanya.
• Representasi jaringan dari sistem yang menggambarkan sistem berdasarkan komponen-komponennya dengan semua antarmuka diantara komponen-komponen tersebut.
• Perangkat pemodelan yang dapat menggambarkan sistem sebagai sebuah jaringan proses-proses fungsional yang satu dengan lainnya dihubungkan oleh “pipa saluran” data.
• Diagram yang mereprentasikan bagaimana infomasi keluar masuk dari-ke sistem, proses apa yang mengubah informasi tersebut dan dimana informasi disimpan.
• Diperkenalkan oleh Tom DeMarco [1978] dan Chris Gane dan Trish Saron [1977] berdasarkan notasi SADT (Structure Analysis and Design Technique).
• Merupakan salah satu teknik yang cukup penting dalam menganalisis sistem karena :
o Dapat mendefinisikan batasan sistem
o Membantu memeriksa kebenaran dan kelengkapan aliran informasi
o Merupakan dasar perancangan dengan memunculkan proses-proses pengolahan data.
• Dapat digunakan untuk menggambarkan aktivitas proses secara paralel (beberapa aliran data dapat terjadi secara simultan). Bandingkan dengan flowmap yang hanya dapt menggambarkan aliran data (dokumen ) secara serial.
Elemen-elemen DFD
Ada empat elemen yang membentuk suatu data Flow Diagram, yaitu :
1. Aliran Data (Data Flow)
• Pipa saluran dimana paket informasi yang diketahui komposisinya mengalir.
• Penghubung antar proses yang merepresentasikan informasi yang dibutuhkan proses sebagai masukan atau informasi yang dihasilkan proses sebagai keluaran.
• Aliran paket informasi dari satu bagian sistem ke bagian sistem lainnya.
• Umumnya mengalir antar proses, tetapi dapat juga mengalir keluar masuk dari-ke file (data store) atau dari-ke sumber tujuan data.
• Data yang dinyatakan dengan aliran data boleh datang dari beberapa dokumen, jadi tidak perlu dirinci menjadi dokumen-dokumen tersebut.
• Diberi nama sesuai dengan substansi isi dari paket informasi (bukan nama dokumen) yang mengalir.
2. Proses
• Transformasi aliran data yang datang menjadi aliran data yang keluar.
• Transformasi bagiamana satu atau beberapa masukan diubah menjadi keluarn.
• Menjelaskan proses-proses transformasi data apa saja yang ada dalam sistem atau yang harus dikerjakan oleh sistem. Komponen-komponen fisik tidak dapat diidentifikasi sebagai proses.
• Diberi nama dan nomor yang akan dipergunakan untuk keperluan identifikasi. Nama yang diberi harus dapat menjelaskan apa yang dilakukan oleh proses.
3. Penyimpanan Data (Data Store)
• Tempat penyimpanan data atau tempat data yang dirujuk oleh proses.
• Kumpulan paket data yang harus diingat oleh sistem dalam periode waktu tertentu.
• Pada akhir pembangunan sistem, data store biasanya diimplementasikan sebagai file atau basis data.
4. Entitas Eksternal/Terminator/Source atau Sink
• Menggambarkan entitas yang berinteraksi dengan sistem yang berada di luar ruang lingkup sistem (bukan yang menjalankan sistem tersebut) atau entitas yang berfungsi sebagai producer/consumer dari sistem (sumber atau tujuan data).
• Dapat berupa orang, unit organisasi, komputer eksternal, organisasi eksternal atau sistem lain. Operator yang memasukan data dalam sistem termasuk entitas internal, karena ia bukan consumer/producer sistem (kecuali untuk ruang lingkup perangkat lunak tertentu).
Penggambaran DFD
Ada dua pendekatan penggambaran/pembuatan DFD yaitu:
Pendekatan Fisik
• Menggambarkan apa atau siapa yang mengerjakan proses-proses dalam sistem.
• Biasanya penggambaran DFD fisik dilakukan untuk alasan :
o Kemudahan tahap awal dalam menguraikan interakasi antar komponen fisik suatu sistem.
o Memberikan kemudahan bagi pihak pemakai untuk memahami sistem dilihat dari sudut pandangnya.
o Merupakan salah satu cara yang mudah untuk mendapatkan pengesahan dan verifikasi dari pemakai.
• Cukup efekttif dalam mengkomunikasikan sistem pada pihak pemakai.
Pendekatan Logika
• Menggambarkan proses atau fungsi transformasi data yang ada dalam sistem (bukan apa atau siapa yang menggerjakannya).
• Dapat dibuat dari DFD fisik dengan cara mentranslasikannya menjadi deskripsi logika yang difokuskan pada data dan proses (jangan melihat siapa yang melakukan pekerjaan tersebut).
• Beberapa hal yang harus diperhatikan saat menggambarkan DFD logika :
o Perhatikan data aktual, bukan dokumen, yang berhubungan dengan proses.
o Hilangkan aliran informasi melalui orang/ unit organisasi/ kantor, munculkan prosedur atau prosesnya saja.
o Hilangkan proses yang tidak penting, yang tidak mengubah data/aliran data, misalnya proses menyalin (Copy) data.
o Hilangkan fungsi alat bantu atau peralatan-peralatan lainnya.
o Konsolidasikan kerangkapan penyimpanan data.
• Dibuat hanya untuk menggambarkan proses yang akan dikerjakan oleh komputer, bukan proses yang sifatnya fisik atau manual.
b. Kamus Data (Data Dictionary)
• Merupakan suatu tempat penyimpanan (gudang) dari data dan informasi yang dibutuhkan oleh suatu sistem informasi.
• Digunakan untuk mendeskripsikan rincian dari aliran data atau informasi yang mengalir dalam sistem, elemen-elemen data, file maupun basis data.
• Ada aturan (konvensi) penulisannya dengan menggunakan notasi atau simbol tertentu.
= sama dengan atau terdiri dari atau terbentuk dari
+ dan
[] pilih salah Satu
{} iterasi atau pengulangan
() pilihan(option)
* komentar
pemisah
• Saat ini ada banyak variasi penulisan kamus data, yang secara umum dibedakan menjadi bentuk lengkap (long form) dan bentuk ringkas (short form).
Contoh :
Id.Barang = Kode_Brg + Nama_Brg + Satuan + Hrg_Beli + Hrg_Jual + Banyak
Kode _Brg = 1 {character} 6
Nama_Brg = 1 {character} 20
Satuan = 1 {character} 3
Hrg_Beli = 3 {numeric}10
Hrg_Jual = 3 {numeric}10
Banyak = 1 {numeric} 6
Character = [A-Z, a-z, 0-9, -]
Numeric = [0-9]
c. Spesifikasi Proses (Process Specification)
• Digunakan untuk menggambarkan deskripsi dan spesifikasi dari setiap proses yang paling rendah (proses atomik) yang ada pada sistem
• Menggunakan notasi yang disebut Structure English atau pseudo-Code.
• Penulisaannya cukup sederhana sehingga dapat digunakan sebagai media untuk mengkomunikasikan proses yang dilakukan sistem kepada pemakai.
• Tersusus dari tiga struktur dasar, yaitu struktur sekuensi, pemilihan dan pengulangan.
Contoh :
Nomor : 3.0
Nama Proses : Buat laporan penjualan
Jenis : Pembuatan Laporan
Masukan : file barang, file jual dan periode transaksi
Keluaran : Laporan Penjualan
Deskripsi :
Begin
Buka file BARANG dan file JUAL
Baca data periode tanggal transaksi
Saring (filter) data pada file JUAL sesuai periode tanggal transaksi
Cetak Laporan Penjualan
Tutup file BARANG dan file JUAL.
End
Atau secara lebih ringkas :
Proses 3.0 Buat laporan penjualan
Begin
Buka file BARANG dan file JUAL
Baca data periode tanggal transaksi
Saring (filter) data pada file JUAL sesuai periode tanggal transaksi
Cetak Laporan Penjualan
Tutup file BARANG dan file JUAL
End
Mekanisme Analisis Terstruktur
• Tahap analisis terstruktur dimulai dengan membuat Diagram Konteks (disebut juga model sistem dasar atau model konteks) yang menggambarkan fungsi sistem sebagai sebuah proses transformasi tunggal.
• Proses dan aliran informasi pada diagram konteks kemudian dipecah dan dibagi-bagi menjadi tingkat-tingkar DFD selanjutnya untuk pemerincian (tingkat 0, 1, 2, …) sampai didapat proses atomik (proses – proses yang akan dikerjakan oleh komputer)
• Pemerincian dilakukan untuk menghindari komplektivitas penggambaran DFD.
• Gunakan kamus data (Data Dictionary) untuk mendeskripsikan data yang mengalir dalam sistem dan spesifikasi proses untuk menerangkan prosesnya.
• Modelkan hubungan antar tempat penyimpanannya dengan Diagram Entity-Relationship (ERD).
Beberapa arahan dalam penurunan DFD:
• Diagram konteks harus menunjukkan sistem sebagai suatu proses tunggal
• Semua anak panah dan proses harus diberi label dengan nama-nama yang mempunyai makna (arti)
• Masukan dan keluaran sistem harus secara hati-hati ditentukan
• Konsistensi aliran informasi harus dijaga dari tingkat ke tingkat berikutnya
• Hanya suatu proses yang diperbaiki pada suatu saat
• Perbaikan harus dimulai dengan mengisolasi calon-calon proses, item-item data dan penyimpanan yang direpresentasikan pada tingkat selanjutnya.
Beberapa perbaikan untuk arahan diatas diberikan oleh Edward Yourdon yang dapat dilaksanakan setelah diagram konteks didapat :
• Daftar kejadian-kejadian yang terjadi pada sistem atau yang harus ditangani oleh sistem
• Buat suatu proses untuk masing-masing kejadian yang menunjukkan aliran data yang terjadi pada kejadian tersebut
• Setelah masing-masing kejadian dinyatakan sebagai proses, maka akan terlihat informasi/aliran data yang terlibat. Berdasarkan hasil tersebut perbaiki diagram konteks dengan mencantumkan seluruh aliran data yang terlibat dalam sistem.
• Gabungkan kejadian-kejadian yang satu kelompok untuk mendapatkan suatu proses yang merupakn turunan dari diagram konteks.
• Setelah itu proses-proses dapat diuraikan lagi menjadi tingkat-tingkat selanjutnya sampai menjadi proses-proses atomik.
[ Download ]
27 September 2009
26 September 2009
Mencontoh pendidikan Rosullulah
[ DOWNLOAD ]
Jurnalnet.com (Jakarta): Derasnya serangan tsaqofah Barat seperti sikap hedonistik dengan implikasinya berupa gaya hidup hura-hura, konsumeristik, rakus, boros, cinta mode, pergaulan bebas, individualistik, kebebasan yang salah arah dan lepas kendali serta tampilan pada anak didik sebagai generasi permisif dan anarkis yang telah disebutkan diatas secara eksplisit wujudnya. Serangan tersebut berakibat pada pengaruh dan peran pendidik umat (guru) menurun drastic sehingga pendidik umat secara perlahan-lahan kehilangan kewibawaan dan keteladanan di tengah-tengah anak didik.
Akhirnya kita dihadapkan pada perkara inti yaitu bagaimana gambaran pola pendidikan Islam ? bagaimana pula sosok pendidik umat yang dibutuhkan untuk membangun kepribadian Islam pada anak didik kaum muslimin?. Pertanyaan ini akan mudah untuk dijawab jika kita memiliki pedoman yang jelas dan kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah serta ber-azzam (bertekad kuat) untuk menggali dan mengeksplorasi khazanah Islam sebagai fundamendal pendidikan generasi muda yang handal. Karena sungguh didalam Al-Qur’an Sunnah telah dijelaskan dengan mendalam segala aspek kehidupan termasuk aspek pendidikan. Maka dari itu penulis mencoba akan menguraikan pada penjelasan berikut ini.
ARAH DAN PILAR PENDIDIKAN ISLAM
Kersakan yang lama ada pada pola pendidikan di negara Barat sepatutnya ditinggalkan oleh kaum muslimin. Kerusakan tersebut timbul dikarenakan tidak adanya muatan ruhiyah dalam penelitian dan pengembangan sains dan teknologinya. Sehingga dampak yang bisa dirasakan, pola pendidikan tersebut menghasilkan output berpikir dan bersikap berdasarkan pada prinsip materialisme dengan menanggalkan prinsip syari’at Islam. Dari sinilah problem sosial kemasyarakatan muncul dan kerusakan tatanan kehidupan. sebagaimana telah disitir dalam ayat berikut ini
“Telah nyata kerusakan didaratan dan dilautan oleh karena tangan – tangan manusia “. (Ar-Rum:41).
Segala urusan dunia jika solusinya diserahkan pada hasil pemikiran manusia tanpa melibatkan hukum-hukum Allah didalamnya, maka solusi tersebut tidak bisa menuntaskan masalah. Sehingga yang terjadi adalah fenomena tambal sulam ataupun gali lubang, tutup lubang atas masalah yang ada. Maka dari itu jika ingin menyelesaikan masalah tanpa masalah termasuk pendidikan harus berujung pangkal pada Islam.
Islam diturunkan Allah SWT melalui Rasulullah Muhammad tidak sekadar melakukan perbaikan akhlaq. Namun lebih jauh lagi, turunnya Islam menjadi penyempurna dari semua agama yang ada dan memuat semua tata aturan kehidupan secara paripurna. Islam menjelaskan aturan mulai dari masuk kamar mandi hingga masuk parlemen, mulai dari menegakkan sholat hingga menegakkan Negara Islam. Demikian pula, Islam menjelaskan secara total bagaimana kaidah pendidikan sesuai dengan Khitab As-Syaari’. Jadi sangat disayangkan jika kaum muslimin berpaling dari Islam malah meniru total pendidikan ala Barat karena silau dengan kemajuannya.
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqoroh : 208).
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata”(QS.Al-Ahzab : 36)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (QS.An-Nisa’: )
Sepanjang sejarah dunia, Islam telah terbukti mampu membangun peradaban manusia yang khas dan mampu menjadi pencerah serta penerang hampir seluruh dunia dari masa-masa kegelapan dan kejayaannya +13 abad lamanya. Factor paling menentukan atas kegemilangan Islam membangun peradaban dunia adalah keimanan dan keilmuannya. Tidak ada pemisahan ataupun dikotomi atas kedua factor tersebut dalam pola pendidikan yang diterapkan. Sehingga generasi yang dihasilkan juga tidak diragukan kehandalannya hingga kini.
Sebut saja tokoh Ibnu Sina sebagai sosok yang dikenal peletak dasar ilmu kedokteran dunia namun beliau juga faqih ad-diin terutama dalam hal ushul fiqh. Masih ada tokoh-tokoh dunia dengan perannya yang penting dan masih menjadi acuan perkembangan sains dan teknologi berasal dari kaum muslimin yaitu Ibnu Khaldun(bapak ekonomi), Ibnu Khawarizm (bapak matematika), Ibnu Batutah (bapak geografi), Al-Khazini dan Al-Biruni (Bapak Fisika), Al-Battani (Bapak Astronomi), Jabir bin Hayyan (Bapak Kimia), Ibnu Al-Bairar al-Nabati (bapak Biologi) dan masih banyak lagi lainnya. Mereka dikenal tidak sekadar paham terhadap sains dan teknologi namun diakui kepakarannya pula di bidang ilmu diniyyah.
Kalau begitu pola pendidikan seperti apa yang mampu mencetak generasi islam berkualitas sekaliber tokoh-tokoh dunia tersebut? Penting kiranya menyatukan persepsi tentang pendidikan sesuai kaidah Syara’. Hakekat pendidikan adalah proses manusia untuk menjadi sempurna yang diridhoi Allah SWT. Hakikat tersebut menunjukkan pendidikan sebagai proses menuju kesempurnaan dan bukannya puncak kesempurnaan, sebab puncak kesempurnaan itu hanyalah ada pada Allah dan kemaksuman Rasulullah SAW. Karena itu, keberhasilan pendidikan hanya bisa dinilai dengan standar pencapaian kesempurnaan manusia pada tingkat yang paling maksimal. Setelah diketahui hakikat pendidikan maka berikutnya bisa dirumuskan tujuan dari pendidikan Islam yang diinginkan yaitu :
Membangun kepribadian islami yang terdiri dari pola piker dan pola jiwa bagi umat yaitu dengan cara menanamkan tsaqofah Islam berupa Aqidah, pemikiran, dan perilaku Islami kedalam akal dan jiwa anak didik. Karenanya harus disusun dan dilaksanakan kurikulum oleh Negara.
Mempersiapkan generasi Islam untuk menjadi orang ‘alim dan faqih di setiap aspek kehidupan, baik ilmu diniyah (Ijtihad, Fiqh, Peradilan, dll) maupun ilmu terapan dari sains dan teknologi (kimia, fisika, kedokteran, dll). Sehingga output yang didapatkan mampu menjawab setiap perubahan dan tantangan zaman dengan berbekal ilmu yang berimbang baik diniyah maupun madiyah-nya.
Kedua tujuan dari pola pendidikan Islam bisa terlaksana jika ditopang dengan pilar yang akan menjaga keberlangsungan dari pendidikan Islam tersebut. Pilar penopang pendidikan Islam yang dibutuhkan untuk bekerja sinergis terdiri dari :
KeluargaDalam pandangan Islam, keluarga merupakan gerbang utama dan pertama yang membukakan pengetahuan atas segala sesuatu yang dipahami oleh anak-anak. Keluarga-lah yang memiliki andil besar dalam menanamkan prinsip-prinsip keimanan yang kokoh sebagai dasar bagi si anak untuk menjalani aktivitas hidupnya. Berikutnya, mengantarkan dan mendampingi anak meraih dan mengamalkan ilmu setingggi-tingginya dalam koridor taqwa. Jadi keluarga harus menyadari memiliki beban tanggung jawab yang pertama untuk membentuk pola akal dan jiwa yang Islami bagi anak. Singkatnya, keluarga sebagai cermin keteladanan bagi generasi baru. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :
كلّ مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصّرانه أو يمجّسانه
“Setiap anak dilahirkan atas fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan anak itu beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)رضى الرّبّ في رضى الوالدوسخط الرّبّ في سخط الولد
“Ridho Tuhan terletak pada ridho orang tua, demikian juga kemurkaan Tuhan terletak pada kemurkaan orang tua.” (HR.Al-Bukhori no.6521)
Masyarakat
Pendidikan generasi merupakan aktivitas yang berkelanjutan tanpa akhir dan sepanjang hayat manusia. Oleh karena itu, pola pendidikan Islam tidak berhenti dan terbatas pada pendidikan formal (sekolah), namun justru pendidikan generasi Islami yang bersifat non formal di tengah masyarakat harus beratmosfer Islam pula. Kajian tsaqofah islam serta ilmu pengetahuan dan sarana penunjangnya menuntut peran aktif dari masyarakat pula. Ada beberapa peran yang bisa dimainkan masyarakat sebagai pilar penopang pendidikan generasi islami yaitu sebagai control penyelenggaraan pendidikan oleh negara dan laboratorium permasalahan kehidupan yang kompleks.
خذاالحكمة ممن سمعتموها فانه قديقول الحكمة غير الحكيم وتكون الرمية من غير رام
“Ambillah hikmah yang kamu dengan dari siapa saja, sebab hikmah itu kadang-kadang diucapkan oleh seseorang yang bukan ahli hikmah. Bukankah ada lemparan yang mengenai sasaran tanpa disengaja?” (HR. Al-Askari dari Anas ra dalam kitab Kashful Khafa’ Jilid II, h.62))
العلم ضالة المؤمن حيث وجده أخذه
Hikmah laksana hak milik seorag mukmin yang hilang. Dimanapun ia mejumpainya, disana ia mengambilnya (HR. Al-Askari dari Anas ra)
Madrasah
Tempat untuk mengkaji keilmuan lebih intensif dan sistematis terletak pada Madrasah. Semasa Rasulullah SAW, masjid-masjid yang didirikan kaum muslimin menjadi lembaga pendidikan formal bagi semua manusia. Didalamnya tidak semata-mata membahas ilmu diniyah, namun juga ilmu terapan. Rasulullah menjadikan masjid untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam, tapi penyusunan strategi perang pun juga seringkali dilakukan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabat didalam masjid. Sedangkan dimasa modern saat ini pendidikan bisa dialihkan yang semula masjid ke tempat dengan fasilitas yang menunjang dalam proses pembelajaran lebih efektif baik itu sekolah maupun perguruan tinggi. Hal ini sah-sah saja dan tidak bisa dianggap sebagai upaya memisahkan anak didik dari masjid.
Peradaban Islam mengalami puncak kegemilangan pada saat Bani Abbasiyah memegang tampuk kekuasaan dalam system pemerintah Khilafah Islamiyah. Sepanjang pemerintahan Khilafah Abbasiyah, perhatian sangat besar diberikan pada pengembangan ilmu pengetahuan dengan pola pendidikan islami. Sejarah mencatat berdirinya Bait Al-Hikmah sebagai madrasah dengan jenjang pendidikannya yang sistematis. Bait Al-Hikmah dibangun oleh Khalifah Al-Ma’mun yang dikenal sebagai khalifah pencinta ilmu pengetahuan. Dari Bait Al-Hikmah inilah lahir tokoh-tokoh muslim ternama yang telah disebutkan sebelumnya. Juga Bait Al-Hikmah lah menjadi mercusuar ilmu pengetahuan yang didatangi oleh semua orang dari segala penjuru dunia termasuk Barat. Dan munculnya Renaissance di Eropa terjadi setelah banyak orang Eropa menggali ilmu pengetahuan dari bait Al-Hikmah.
Sistematika pendidikan islam yang bisa diterapkan dalam madrasah dikelompokkan secara berjenjang (marhalah) yang harus memperhatikan fakta anak didik di setiap tingkatan. Tentunya bobot yang diberikan disetiap tingkatan memiliki komposisi yang berbeda namun proporsional. Sedangkan keberhasilan sistematika pendidikan islami yang ada pada madrasah tergantung pada para tenaga pendidiknya. Perkembangan sikap dan pemahaman yang terdapat pada anak didik merupakan tanggung jawab terbesar pada para tenaga pendidik. Lebih dari itu, syakhsiyah Islamiyah yang dicita-citakan pada anak didik menjadi sempurna apabila para tenaga pendidiknya lebih dahulu memiliki syakhsiyah islamiyah tersebut dan mampu meningkatkan secara berkelanjutan. Madrasah meletakkan harapan besar kepada para tenaga pendidik untuk memberikan proses yang tidak sekadar transfer of knowledge tapi juga cultivate of spirit and value. Maka dari itu arti guru yaitu digugu dan ditiru benar-benar bisa terlaksana dan terjaga dengan baik.
Sumber:Arif Firmansyah (19/05/2008 – 11:02 WIB)
http://www.hizbut-tahrir.or.id
[ DOWNLOAD ]
Jurnalnet.com (Jakarta): Derasnya serangan tsaqofah Barat seperti sikap hedonistik dengan implikasinya berupa gaya hidup hura-hura, konsumeristik, rakus, boros, cinta mode, pergaulan bebas, individualistik, kebebasan yang salah arah dan lepas kendali serta tampilan pada anak didik sebagai generasi permisif dan anarkis yang telah disebutkan diatas secara eksplisit wujudnya. Serangan tersebut berakibat pada pengaruh dan peran pendidik umat (guru) menurun drastic sehingga pendidik umat secara perlahan-lahan kehilangan kewibawaan dan keteladanan di tengah-tengah anak didik.
Akhirnya kita dihadapkan pada perkara inti yaitu bagaimana gambaran pola pendidikan Islam ? bagaimana pula sosok pendidik umat yang dibutuhkan untuk membangun kepribadian Islam pada anak didik kaum muslimin?. Pertanyaan ini akan mudah untuk dijawab jika kita memiliki pedoman yang jelas dan kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah serta ber-azzam (bertekad kuat) untuk menggali dan mengeksplorasi khazanah Islam sebagai fundamendal pendidikan generasi muda yang handal. Karena sungguh didalam Al-Qur’an Sunnah telah dijelaskan dengan mendalam segala aspek kehidupan termasuk aspek pendidikan. Maka dari itu penulis mencoba akan menguraikan pada penjelasan berikut ini.
ARAH DAN PILAR PENDIDIKAN ISLAM
Kersakan yang lama ada pada pola pendidikan di negara Barat sepatutnya ditinggalkan oleh kaum muslimin. Kerusakan tersebut timbul dikarenakan tidak adanya muatan ruhiyah dalam penelitian dan pengembangan sains dan teknologinya. Sehingga dampak yang bisa dirasakan, pola pendidikan tersebut menghasilkan output berpikir dan bersikap berdasarkan pada prinsip materialisme dengan menanggalkan prinsip syari’at Islam. Dari sinilah problem sosial kemasyarakatan muncul dan kerusakan tatanan kehidupan. sebagaimana telah disitir dalam ayat berikut ini
“Telah nyata kerusakan didaratan dan dilautan oleh karena tangan – tangan manusia “. (Ar-Rum:41).
Segala urusan dunia jika solusinya diserahkan pada hasil pemikiran manusia tanpa melibatkan hukum-hukum Allah didalamnya, maka solusi tersebut tidak bisa menuntaskan masalah. Sehingga yang terjadi adalah fenomena tambal sulam ataupun gali lubang, tutup lubang atas masalah yang ada. Maka dari itu jika ingin menyelesaikan masalah tanpa masalah termasuk pendidikan harus berujung pangkal pada Islam.
Islam diturunkan Allah SWT melalui Rasulullah Muhammad tidak sekadar melakukan perbaikan akhlaq. Namun lebih jauh lagi, turunnya Islam menjadi penyempurna dari semua agama yang ada dan memuat semua tata aturan kehidupan secara paripurna. Islam menjelaskan aturan mulai dari masuk kamar mandi hingga masuk parlemen, mulai dari menegakkan sholat hingga menegakkan Negara Islam. Demikian pula, Islam menjelaskan secara total bagaimana kaidah pendidikan sesuai dengan Khitab As-Syaari’. Jadi sangat disayangkan jika kaum muslimin berpaling dari Islam malah meniru total pendidikan ala Barat karena silau dengan kemajuannya.
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqoroh : 208).
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata”(QS.Al-Ahzab : 36)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (QS.An-Nisa’: )
Sepanjang sejarah dunia, Islam telah terbukti mampu membangun peradaban manusia yang khas dan mampu menjadi pencerah serta penerang hampir seluruh dunia dari masa-masa kegelapan dan kejayaannya +13 abad lamanya. Factor paling menentukan atas kegemilangan Islam membangun peradaban dunia adalah keimanan dan keilmuannya. Tidak ada pemisahan ataupun dikotomi atas kedua factor tersebut dalam pola pendidikan yang diterapkan. Sehingga generasi yang dihasilkan juga tidak diragukan kehandalannya hingga kini.
Sebut saja tokoh Ibnu Sina sebagai sosok yang dikenal peletak dasar ilmu kedokteran dunia namun beliau juga faqih ad-diin terutama dalam hal ushul fiqh. Masih ada tokoh-tokoh dunia dengan perannya yang penting dan masih menjadi acuan perkembangan sains dan teknologi berasal dari kaum muslimin yaitu Ibnu Khaldun(bapak ekonomi), Ibnu Khawarizm (bapak matematika), Ibnu Batutah (bapak geografi), Al-Khazini dan Al-Biruni (Bapak Fisika), Al-Battani (Bapak Astronomi), Jabir bin Hayyan (Bapak Kimia), Ibnu Al-Bairar al-Nabati (bapak Biologi) dan masih banyak lagi lainnya. Mereka dikenal tidak sekadar paham terhadap sains dan teknologi namun diakui kepakarannya pula di bidang ilmu diniyyah.
Kalau begitu pola pendidikan seperti apa yang mampu mencetak generasi islam berkualitas sekaliber tokoh-tokoh dunia tersebut? Penting kiranya menyatukan persepsi tentang pendidikan sesuai kaidah Syara’. Hakekat pendidikan adalah proses manusia untuk menjadi sempurna yang diridhoi Allah SWT. Hakikat tersebut menunjukkan pendidikan sebagai proses menuju kesempurnaan dan bukannya puncak kesempurnaan, sebab puncak kesempurnaan itu hanyalah ada pada Allah dan kemaksuman Rasulullah SAW. Karena itu, keberhasilan pendidikan hanya bisa dinilai dengan standar pencapaian kesempurnaan manusia pada tingkat yang paling maksimal. Setelah diketahui hakikat pendidikan maka berikutnya bisa dirumuskan tujuan dari pendidikan Islam yang diinginkan yaitu :
Membangun kepribadian islami yang terdiri dari pola piker dan pola jiwa bagi umat yaitu dengan cara menanamkan tsaqofah Islam berupa Aqidah, pemikiran, dan perilaku Islami kedalam akal dan jiwa anak didik. Karenanya harus disusun dan dilaksanakan kurikulum oleh Negara.
Mempersiapkan generasi Islam untuk menjadi orang ‘alim dan faqih di setiap aspek kehidupan, baik ilmu diniyah (Ijtihad, Fiqh, Peradilan, dll) maupun ilmu terapan dari sains dan teknologi (kimia, fisika, kedokteran, dll). Sehingga output yang didapatkan mampu menjawab setiap perubahan dan tantangan zaman dengan berbekal ilmu yang berimbang baik diniyah maupun madiyah-nya.
Kedua tujuan dari pola pendidikan Islam bisa terlaksana jika ditopang dengan pilar yang akan menjaga keberlangsungan dari pendidikan Islam tersebut. Pilar penopang pendidikan Islam yang dibutuhkan untuk bekerja sinergis terdiri dari :
KeluargaDalam pandangan Islam, keluarga merupakan gerbang utama dan pertama yang membukakan pengetahuan atas segala sesuatu yang dipahami oleh anak-anak. Keluarga-lah yang memiliki andil besar dalam menanamkan prinsip-prinsip keimanan yang kokoh sebagai dasar bagi si anak untuk menjalani aktivitas hidupnya. Berikutnya, mengantarkan dan mendampingi anak meraih dan mengamalkan ilmu setingggi-tingginya dalam koridor taqwa. Jadi keluarga harus menyadari memiliki beban tanggung jawab yang pertama untuk membentuk pola akal dan jiwa yang Islami bagi anak. Singkatnya, keluarga sebagai cermin keteladanan bagi generasi baru. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :
كلّ مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصّرانه أو يمجّسانه
“Setiap anak dilahirkan atas fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan anak itu beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)رضى الرّبّ في رضى الوالدوسخط الرّبّ في سخط الولد
“Ridho Tuhan terletak pada ridho orang tua, demikian juga kemurkaan Tuhan terletak pada kemurkaan orang tua.” (HR.Al-Bukhori no.6521)
Masyarakat
Pendidikan generasi merupakan aktivitas yang berkelanjutan tanpa akhir dan sepanjang hayat manusia. Oleh karena itu, pola pendidikan Islam tidak berhenti dan terbatas pada pendidikan formal (sekolah), namun justru pendidikan generasi Islami yang bersifat non formal di tengah masyarakat harus beratmosfer Islam pula. Kajian tsaqofah islam serta ilmu pengetahuan dan sarana penunjangnya menuntut peran aktif dari masyarakat pula. Ada beberapa peran yang bisa dimainkan masyarakat sebagai pilar penopang pendidikan generasi islami yaitu sebagai control penyelenggaraan pendidikan oleh negara dan laboratorium permasalahan kehidupan yang kompleks.
خذاالحكمة ممن سمعتموها فانه قديقول الحكمة غير الحكيم وتكون الرمية من غير رام
“Ambillah hikmah yang kamu dengan dari siapa saja, sebab hikmah itu kadang-kadang diucapkan oleh seseorang yang bukan ahli hikmah. Bukankah ada lemparan yang mengenai sasaran tanpa disengaja?” (HR. Al-Askari dari Anas ra dalam kitab Kashful Khafa’ Jilid II, h.62))
العلم ضالة المؤمن حيث وجده أخذه
Hikmah laksana hak milik seorag mukmin yang hilang. Dimanapun ia mejumpainya, disana ia mengambilnya (HR. Al-Askari dari Anas ra)
Madrasah
Tempat untuk mengkaji keilmuan lebih intensif dan sistematis terletak pada Madrasah. Semasa Rasulullah SAW, masjid-masjid yang didirikan kaum muslimin menjadi lembaga pendidikan formal bagi semua manusia. Didalamnya tidak semata-mata membahas ilmu diniyah, namun juga ilmu terapan. Rasulullah menjadikan masjid untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam, tapi penyusunan strategi perang pun juga seringkali dilakukan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabat didalam masjid. Sedangkan dimasa modern saat ini pendidikan bisa dialihkan yang semula masjid ke tempat dengan fasilitas yang menunjang dalam proses pembelajaran lebih efektif baik itu sekolah maupun perguruan tinggi. Hal ini sah-sah saja dan tidak bisa dianggap sebagai upaya memisahkan anak didik dari masjid.
Peradaban Islam mengalami puncak kegemilangan pada saat Bani Abbasiyah memegang tampuk kekuasaan dalam system pemerintah Khilafah Islamiyah. Sepanjang pemerintahan Khilafah Abbasiyah, perhatian sangat besar diberikan pada pengembangan ilmu pengetahuan dengan pola pendidikan islami. Sejarah mencatat berdirinya Bait Al-Hikmah sebagai madrasah dengan jenjang pendidikannya yang sistematis. Bait Al-Hikmah dibangun oleh Khalifah Al-Ma’mun yang dikenal sebagai khalifah pencinta ilmu pengetahuan. Dari Bait Al-Hikmah inilah lahir tokoh-tokoh muslim ternama yang telah disebutkan sebelumnya. Juga Bait Al-Hikmah lah menjadi mercusuar ilmu pengetahuan yang didatangi oleh semua orang dari segala penjuru dunia termasuk Barat. Dan munculnya Renaissance di Eropa terjadi setelah banyak orang Eropa menggali ilmu pengetahuan dari bait Al-Hikmah.
Sistematika pendidikan islam yang bisa diterapkan dalam madrasah dikelompokkan secara berjenjang (marhalah) yang harus memperhatikan fakta anak didik di setiap tingkatan. Tentunya bobot yang diberikan disetiap tingkatan memiliki komposisi yang berbeda namun proporsional. Sedangkan keberhasilan sistematika pendidikan islami yang ada pada madrasah tergantung pada para tenaga pendidiknya. Perkembangan sikap dan pemahaman yang terdapat pada anak didik merupakan tanggung jawab terbesar pada para tenaga pendidik. Lebih dari itu, syakhsiyah Islamiyah yang dicita-citakan pada anak didik menjadi sempurna apabila para tenaga pendidiknya lebih dahulu memiliki syakhsiyah islamiyah tersebut dan mampu meningkatkan secara berkelanjutan. Madrasah meletakkan harapan besar kepada para tenaga pendidik untuk memberikan proses yang tidak sekadar transfer of knowledge tapi juga cultivate of spirit and value. Maka dari itu arti guru yaitu digugu dan ditiru benar-benar bisa terlaksana dan terjaga dengan baik.
Sumber:Arif Firmansyah (19/05/2008 – 11:02 WIB)
http://www.hizbut-tahrir.or.id
[ DOWNLOAD ]
24 April 2009
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERMAKNAAN HIDUP
[ DOWNLOAD ]
Spiritualitas
Merupakan sebuah konsep yang sulit untuk dirumuskan, tidak dapat diturunkan, dan tidak dapat diterangkan dengan term-term yang bersifat material, kendatipun spiritual dapat dipengaruhi oleh dimensi kebendaan. Namun tetap saja spiritualitas tidak dapat disebabkan ataupun dihasilkan oleh hal-hal yang bersifat bendawi tersebut. Istilah spiritual ini dapat disinonimkan dengan istilah jiwa. Covey (2005) menegaskan bahwa hidup ini akan menjadi penuh makna dan keagungan ketika individu dapat mengilhami sekaligus menjadi jalan bagi orang lain untuk menemukan panggilan jiwa mereka, dengan dibimbing oleh empat macam kecerdasan, yaitu: kecerdasan fisik (Physical Quotient), kecerdasan mental (Intelligence Quotient), kecerdasan emosi (Emotional Quotient), dan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient), di mana ketiga kecerdasan yang disebutkan di bagian awal tunduk pada kecerdasan yang terakhir, spiritual (Spiritual Quotient), yang juga sering disebut sebagai hati nurani.
Kebebasan
Kebebasan tidak dibatasi oleh hal-hal yang bersifat non spiritual, oleh insting-insting biologis, apalagi oleh kondisi-kondisi lingkungan. Manusia dianugerahi kebebasan oleh penciptanya, dan dengan kebebasan tersebut ia diharuskan untuk memilih bagaimana hidup dan bertingkah laku yang sehat secara psikologis. Individu yang tidak tahu bagaimana cara memanfaatkan kebebasan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya, adalah individu yang mengalami hambatan psikologis atau neurotis. Individu yang neurotik akan menghambat pertumbuhan sekaligus pemenuhan potensi- potensi yang mereka miliki, sehingga akan mengganggu perkembangan sebagai individu secara penuh.
Tanggung JawabIndividu yang sehat secara psikologis menyadari sepenuhnya akan beban dan tanggung jawab yang harus mereka pikul dalam setiap fase kehidupannya, sekaligus menggunakan waktu yang mereka miliki dengan bijaksana agar hidup dapat berkembang ke arah yang lebih baik. Kehidupan yang penuh arti sangat ditentukan oleh kualitasnya, bukan berapa lama atau berapa panjang usia hidup.
Keberadaan manusia akan menjadi sehat dan efektif jika faktor-faktor tersebut di atas dapat terealisasikan dengan baik dan benar dalam setiap tindakan yang dilakukan oleh individu.
Frankl (dalam Schultz, 1991) kemudian menambahkan bahwa dalam menemukan makna hidup tidak terlepas dari realisasi nilai-nilai. Nilai-nilai itu tidak sama bagi setiap orang, dan berbeda dalam setiap situasi. Nilai-nilai itu senantiasa berubah dan fleksibel agar dapat beradaptasi dengan beragam situasi di mana individu dapat menyadari kemampuan yang dimilikinya.
Nilai-nilai yang mendasar bagi manusia dalam upaya menemukan makna hidupnya, menurut Frankl (dalam Schultz, 1991) adalah:
Nilai-nilai Kreatif (Creativity Values)Nilai-nilai kreatif merupakan nilai-nilai yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia yang dapat dipergunakannya untuk memberi sentuhan lebih pada kehidupannya, atau kehidupan orang lain. Nilai-nilai kreatif ini biasanya terealisasi dalam bentuk aktivitas yang kreatif dan produktif, biasanya terkait dengan suatu bidang pekerjaan. Meski begitu, nilai-nilai kreatif dapat diterapkan di semua sendi kehidupan. Makna hidup akan diberikan melalui karya-karya nyata, tidak harus berupa hal-hal yang bersifat materi atau fisik, mungkin saja dengan ide, ataupun dengan jasa yang diberikan kepada orang lain.
Nilai-nilai Pengalaman (Experiential Values)
Nilai-nilai pengalaman adalah apa-apa saja yang diperoleh manusia dalam rentang waktu kehidupannya, misalkan penemuannya akan suatu kebenaran, keindahan, cinta, kasih sayang, caci maki, atau bahkan sumpah serapah. Ada kemungkinan bagi manusia untuk menemukan kebermaknaan hidup dengan mengalami berbagai sisi kehidupan secara intensif, walaupun individu tersebut tidak melakukan sesuatu yang berarti (dalam Risma, 2001).
Nilai-nilai Bersikap (Attitudinal Values)
Merupakan sikap yang ditunjukkan oleh manusia terhadap segala kemungkinan atau kondisi yang tidak sanggup diubahnya, seperti penyakit, kesulitan, atau kematian. Kondisi-kondisi yang tidak menguntungkan, yang sangat potensial untuk menimbulkan tekanan psikologis bagi individu, seperti stres, kesedihan, bahkan keputusasaan, sebenarnya membuka kesempatan yang sangat luas bagi individu untuk dapat menemukan makna hidupnya. Apabila dihadapkan pada kondisi sedemikian, maka satu-satunya cara terbaik dan paling rasional untuk dilakukan adalah dengan menerima keadaan tersebut dengan lapang dada.
Selain faktor-faktor yang telah dipaparkan di atas, faktor lain yang ikut mempengaruhi hadirnya kebermaknaan hidup seseorang adalah konsep diri. Konsep diri menjelaskan tentang pandangan seseorang terhadap dirinya secara menyeluruh terkait dengan keyakinan akan aspek fisik, sosial, psikologis, emosional, maupun aspirasinya (Hurlock, 1979). Konsep diri seseorang akan turut mempengaruhi sikap serta perilakunya dalam menghadapi suatu masalah. Dalam menghadapi suatu situasi, terutama situasi yang kurang menguntungkan bagi diri seseorang, konsep diri yang dimiliki oleh seseorang akan mendominasi mekanisme yang dikembangkannya dalam mengatasi situasi yang kurang menguntungkan tersebut. Positif atau negatifnya konsep diri yang dimiliki, akan berdampak pada hasil yang diperoleh, dan itu juga berarti akan berimbas pada tercapai tidaknya makna hidup.
Hal lain yang juga dapat mempengaruhi apakah seseorang dapat menemukan makna dalam kehidupannya atau tidak adalah kecerdasan adversity. Kecerdasan adversity ini terkait dengan respon seseorang terhadap masalah yang sedang dihadapinya. Kecerdasan adversity juga mengungkap tentang daya adaptasi seseorang terhadap masalah. Stoltz (2005) mengemukakan bahwa individu yang memiliki tekad pantang menyerah dan terus berjuang dengan gigih ketika dihadapkan pada suatu problematika hidup, penuh motivasi, antusiasme, dorongan, ambisi, semangat, serta kegigihan yang tinggi, dipandang sebagai figur yang memiliki kecerdasan adversity yang tinggi, sedangkan individu yang mudah menyerah, pasrah, pesimistik dan memiliki kecenderungan untuk senantiasa bersikap negatif, dapat dikatakan sebagai individu yang memiliki tingkat kecerdasan adversity yang rendah.
Konsep tentang kecerdasan adversity seperti yang dijelaskan di atas jauh-jauh hari telah dipraktikkan oleh Frankl, tokoh penggagas kebermaknaan hidup. Ketika ia menjadi salah satu tahanan tentara Nazi, yang setiap saat berpeluang untuk menjadi korban pembantaian, maka yang senantiasa ada dalam pikirannya adalah bahwa ia harus tetap bertahan, ia tidak ingin mati di dalam kamp konsentrasi milik serdadu Nazi Jerman tersebut (Mayne & Mayne, 2005).
Pernyataan-pernyataan yang diungkapkan oleh berbagai tokoh di atas memberikan suatu sinyalemen bahwa untuk menemukan makna hidup memang terkesan gampang-gampang susah. Diperlukan berbagai macam perangkat nilai yang (seharusnya) sejak jauh-jauh hari telah ditanamkan dalam diri seseorang. Nilai-nilai tersebut kemudian akan memandu seseorang menuju pemenuhan makna hidup, sekaligus menjadi kunci untuk membuka pintu kebahagiaan. Namun, satu hal yang perlu digarisbawahi pula bahwa rentetan pengalaman hiduplah yang akan menjadi pemantik untuk berfungsi optimalnya nilai-nilai tersebut. Tanpa pengalaman hidup, hampir mustahil seseorang akan mendapatkan makna dalam hidupnya.
Sumber :
Ditulis WangMuba pada 07 Mar. 2009, Kategori ARTIKEL, Psikologi Umum
http://wangmuba.com/2009/03/07/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-kebermaknaan-hidup
[ DOWNLOAD ]
Frankl (dalam Schultz, 1991) merumuskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kebermaknaan hidup individu ke dalam tiga faktor, yaitu:
Spiritualitas
Merupakan sebuah konsep yang sulit untuk dirumuskan, tidak dapat diturunkan, dan tidak dapat diterangkan dengan term-term yang bersifat material, kendatipun spiritual dapat dipengaruhi oleh dimensi kebendaan. Namun tetap saja spiritualitas tidak dapat disebabkan ataupun dihasilkan oleh hal-hal yang bersifat bendawi tersebut. Istilah spiritual ini dapat disinonimkan dengan istilah jiwa. Covey (2005) menegaskan bahwa hidup ini akan menjadi penuh makna dan keagungan ketika individu dapat mengilhami sekaligus menjadi jalan bagi orang lain untuk menemukan panggilan jiwa mereka, dengan dibimbing oleh empat macam kecerdasan, yaitu: kecerdasan fisik (Physical Quotient), kecerdasan mental (Intelligence Quotient), kecerdasan emosi (Emotional Quotient), dan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient), di mana ketiga kecerdasan yang disebutkan di bagian awal tunduk pada kecerdasan yang terakhir, spiritual (Spiritual Quotient), yang juga sering disebut sebagai hati nurani.
Kebebasan
Kebebasan tidak dibatasi oleh hal-hal yang bersifat non spiritual, oleh insting-insting biologis, apalagi oleh kondisi-kondisi lingkungan. Manusia dianugerahi kebebasan oleh penciptanya, dan dengan kebebasan tersebut ia diharuskan untuk memilih bagaimana hidup dan bertingkah laku yang sehat secara psikologis. Individu yang tidak tahu bagaimana cara memanfaatkan kebebasan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya, adalah individu yang mengalami hambatan psikologis atau neurotis. Individu yang neurotik akan menghambat pertumbuhan sekaligus pemenuhan potensi- potensi yang mereka miliki, sehingga akan mengganggu perkembangan sebagai individu secara penuh.
Tanggung JawabIndividu yang sehat secara psikologis menyadari sepenuhnya akan beban dan tanggung jawab yang harus mereka pikul dalam setiap fase kehidupannya, sekaligus menggunakan waktu yang mereka miliki dengan bijaksana agar hidup dapat berkembang ke arah yang lebih baik. Kehidupan yang penuh arti sangat ditentukan oleh kualitasnya, bukan berapa lama atau berapa panjang usia hidup.
Keberadaan manusia akan menjadi sehat dan efektif jika faktor-faktor tersebut di atas dapat terealisasikan dengan baik dan benar dalam setiap tindakan yang dilakukan oleh individu.
Frankl (dalam Schultz, 1991) kemudian menambahkan bahwa dalam menemukan makna hidup tidak terlepas dari realisasi nilai-nilai. Nilai-nilai itu tidak sama bagi setiap orang, dan berbeda dalam setiap situasi. Nilai-nilai itu senantiasa berubah dan fleksibel agar dapat beradaptasi dengan beragam situasi di mana individu dapat menyadari kemampuan yang dimilikinya.
Nilai-nilai yang mendasar bagi manusia dalam upaya menemukan makna hidupnya, menurut Frankl (dalam Schultz, 1991) adalah:
Nilai-nilai Kreatif (Creativity Values)Nilai-nilai kreatif merupakan nilai-nilai yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia yang dapat dipergunakannya untuk memberi sentuhan lebih pada kehidupannya, atau kehidupan orang lain. Nilai-nilai kreatif ini biasanya terealisasi dalam bentuk aktivitas yang kreatif dan produktif, biasanya terkait dengan suatu bidang pekerjaan. Meski begitu, nilai-nilai kreatif dapat diterapkan di semua sendi kehidupan. Makna hidup akan diberikan melalui karya-karya nyata, tidak harus berupa hal-hal yang bersifat materi atau fisik, mungkin saja dengan ide, ataupun dengan jasa yang diberikan kepada orang lain.
Nilai-nilai Pengalaman (Experiential Values)
Nilai-nilai pengalaman adalah apa-apa saja yang diperoleh manusia dalam rentang waktu kehidupannya, misalkan penemuannya akan suatu kebenaran, keindahan, cinta, kasih sayang, caci maki, atau bahkan sumpah serapah. Ada kemungkinan bagi manusia untuk menemukan kebermaknaan hidup dengan mengalami berbagai sisi kehidupan secara intensif, walaupun individu tersebut tidak melakukan sesuatu yang berarti (dalam Risma, 2001).
Nilai-nilai Bersikap (Attitudinal Values)
Merupakan sikap yang ditunjukkan oleh manusia terhadap segala kemungkinan atau kondisi yang tidak sanggup diubahnya, seperti penyakit, kesulitan, atau kematian. Kondisi-kondisi yang tidak menguntungkan, yang sangat potensial untuk menimbulkan tekanan psikologis bagi individu, seperti stres, kesedihan, bahkan keputusasaan, sebenarnya membuka kesempatan yang sangat luas bagi individu untuk dapat menemukan makna hidupnya. Apabila dihadapkan pada kondisi sedemikian, maka satu-satunya cara terbaik dan paling rasional untuk dilakukan adalah dengan menerima keadaan tersebut dengan lapang dada.
Selain faktor-faktor yang telah dipaparkan di atas, faktor lain yang ikut mempengaruhi hadirnya kebermaknaan hidup seseorang adalah konsep diri. Konsep diri menjelaskan tentang pandangan seseorang terhadap dirinya secara menyeluruh terkait dengan keyakinan akan aspek fisik, sosial, psikologis, emosional, maupun aspirasinya (Hurlock, 1979). Konsep diri seseorang akan turut mempengaruhi sikap serta perilakunya dalam menghadapi suatu masalah. Dalam menghadapi suatu situasi, terutama situasi yang kurang menguntungkan bagi diri seseorang, konsep diri yang dimiliki oleh seseorang akan mendominasi mekanisme yang dikembangkannya dalam mengatasi situasi yang kurang menguntungkan tersebut. Positif atau negatifnya konsep diri yang dimiliki, akan berdampak pada hasil yang diperoleh, dan itu juga berarti akan berimbas pada tercapai tidaknya makna hidup.
Hal lain yang juga dapat mempengaruhi apakah seseorang dapat menemukan makna dalam kehidupannya atau tidak adalah kecerdasan adversity. Kecerdasan adversity ini terkait dengan respon seseorang terhadap masalah yang sedang dihadapinya. Kecerdasan adversity juga mengungkap tentang daya adaptasi seseorang terhadap masalah. Stoltz (2005) mengemukakan bahwa individu yang memiliki tekad pantang menyerah dan terus berjuang dengan gigih ketika dihadapkan pada suatu problematika hidup, penuh motivasi, antusiasme, dorongan, ambisi, semangat, serta kegigihan yang tinggi, dipandang sebagai figur yang memiliki kecerdasan adversity yang tinggi, sedangkan individu yang mudah menyerah, pasrah, pesimistik dan memiliki kecenderungan untuk senantiasa bersikap negatif, dapat dikatakan sebagai individu yang memiliki tingkat kecerdasan adversity yang rendah.
Konsep tentang kecerdasan adversity seperti yang dijelaskan di atas jauh-jauh hari telah dipraktikkan oleh Frankl, tokoh penggagas kebermaknaan hidup. Ketika ia menjadi salah satu tahanan tentara Nazi, yang setiap saat berpeluang untuk menjadi korban pembantaian, maka yang senantiasa ada dalam pikirannya adalah bahwa ia harus tetap bertahan, ia tidak ingin mati di dalam kamp konsentrasi milik serdadu Nazi Jerman tersebut (Mayne & Mayne, 2005).
Pernyataan-pernyataan yang diungkapkan oleh berbagai tokoh di atas memberikan suatu sinyalemen bahwa untuk menemukan makna hidup memang terkesan gampang-gampang susah. Diperlukan berbagai macam perangkat nilai yang (seharusnya) sejak jauh-jauh hari telah ditanamkan dalam diri seseorang. Nilai-nilai tersebut kemudian akan memandu seseorang menuju pemenuhan makna hidup, sekaligus menjadi kunci untuk membuka pintu kebahagiaan. Namun, satu hal yang perlu digarisbawahi pula bahwa rentetan pengalaman hiduplah yang akan menjadi pemantik untuk berfungsi optimalnya nilai-nilai tersebut. Tanpa pengalaman hidup, hampir mustahil seseorang akan mendapatkan makna dalam hidupnya.
Sumber :
Ditulis WangMuba pada 07 Mar. 2009, Kategori ARTIKEL, Psikologi Umum
http://wangmuba.com/2009/03/07/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-kebermaknaan-hidup
[ DOWNLOAD ]
17 April 2009
MEMBANGUN KEBERMAKNAAN DALAM PEMBELAJARAN
[ DOWNLOAD ]
Sekolah bukanlah semata-mata persiapan untuk kehidupan di masa depan tetapi sekolah adalah kehidupan itu sendiri.
Demikian sebuah ungkapan seorang tokoh pendidikan yang menarik untuk kita cermati berkenaan dengan membangun kebermaknaan dalam pembelajaran atau sekolah. Memiliki sebuah arti atau kebermaknaan dalam belajar menjadi salah satu faktor yang kuat dan juga menentukan dalam keberhasilan pendidikan. Seorang anak akan bersungguh-sungguh mengikuti proses pembelajaran ketika dia memahami tujuan, manfaat serta keuntungan dari proses pembelajaran tersebut bagi dirinya. Kebermaknaan yang ia miliki merupakan sumber motivasi kesungguhan belajarnya. Sedangkan siswa yang tidak punya arti proses belajar bagi dirinya sendiri, akan tercermin dari perilaku misalnya kurang respon terhadap materi di kelas, prestasi yang biasa saja, bahkan melakukan pelanggaran.
Apabila dikembalikan kepada hakikatnya, manusia adalah makhluk bermakna, apapun yang dilakukan oleh manusia harus berdasar dan memiliki makna tertentu. Untuk itulah upaya membangun kebermaknaan dalam proses pembelajaran merupakan sesuatu yang harus ada (conditio sine quanon). Kebermaknaan dalam proses pembelajaran dapat ditanamkan dan dibangun sesuai dengan tingkat penalaran peserta didik dengan berbagai metode atau pendekatan. Kebermaknaan yang dibangun haruslah menyeluruh, utuh (holistic), dan mendasar (substantif) yaitu meliputi hal yang kasat mata maupun yang abstrak, imanen maupun transenden.
Kebermaknaan yang sekiranya dapat ditanamkan pada siswa dalam proses pembelajarannya harus meliputi empat dimensi potensi dasar manusia, diantaranya fisiologis, intelektual, emosional, dan spiritual. Berdasarkan keempat dimensi tersebut penulis merumuskan kembali kebermaknaan yang akan diterapkan pada siswa di sekolah menjadi ‘10 P’. Pertama, pahala. Siswa harus yakin bahwa belajar atau sekolah adalah ibadah pada Allah Swt, dan apabila niatnya sudah ikhlas karena Allah pasti akan bernilai pahala sebagai investasi akhirat kelak. Seorang anak yang memaknai belajar dan sekolahnya sebagai ibadah dan berharap dapat pahala kebaikan dari Sang Pencipta, tentu akan sungguh-sungguh dan sabar terus berjuang, anak harus yakin bahwa mereka memperoleh pengampunan dari kesabarannya dengan jalan mencari ilmu. Anak harus yakin bahwa proses pembelajaran adalah sebagai “majelis ta’lim” dan di majelis ta’lim pasti akan turun rahmat Allah Swt berupa pahala kebaikan dan pengampunan Allah.
Ketiga, pengalaman. Setiap hari bagi anak adalah pengalaman baru, dan pengalaman hidup. Pengalaman juga merupakan hal yang sangat dibutuhkan oleh manusia dalam proses pembentukan kedirian dan kepribadiannya. Pastikan setiap anak selalu ingin menambah pengalaman yang positif dan penuh makna dalam hidupnya. Siswa yang banyak pengalaman yang berasal pembelajaran di sekolahnya akan berguna dalam kehidupannya kelak saat terjun di masyarakat. Keempat, pertemanan atau persahabatan. Seorang siswa selama dalam proses pendidikan di sekolah, memiliki banyak kesempatan untuk menjalin persahabatan yang positif dan konstruktif. Semakin banyak teman dan sahabat yang dapat dibangun tentu akan semakin baik kehidupan sosial seorang siswa. Hal ini sangat penting untuk membangun kecerdasan emosionalnya (EQ).
Kelima, pengetahuan. Hal ini jelas karena pembelajaran di sekolah merupakan wahana untuk pengembangan ilmu dan pengetahuan serta membangun proses penalaran anak. Keenam, pemahaman baru. Belajar bagi seorang anak merupakan sebuah proses yang terus menerus, boleh jadi pertemuan pertama dengan gurunya tidak paham pada pelajaran atau nilai tertentu, tetapi pada pertemuan berikutnya anak menjadi lebih paham. Pemahaman sangat penting untuk membangun sebuah keyakinan dan tindakan yang efektif dan aplikatif.
Ketujuh, penilaian. Seorang anak sangat membutuhkan penilaian baik kualitatif maupun kuantitatif dari guru atau wali kelasnya. Anak akan senang jika diperhatikan dan diberi penilaian yang adil oleh gurunya, dan anak sangat membutuhkan nilai atau penilaiannya. Kedelapan, pengakuan. Dalam proses pembelajaran, seorang anak akan mengekspresikan semua kemampuannya jika pendidik dengan adil memberikan pengakuan atas kemampuannya. Pengakuan bagi seorang siswa merupakan hal yang sangat mendasar, karena menyangkut harga diri seorang anak.
Kesembilan, prestasi. Belajar akan semakin memotivasi dan menantang, ketika anak memiliki keinginan untuk meraih prestasi tertentu. Misalnya, ingin lulus dengan angka sangat memuaskan, memperoleh rangking atau juara kelas atau mendapat hadiah menarik dari kedua orangtuanya. Prestasi merupakan salah satu dorongan kebermaknaan dalam proses pembelajaran.
Kesepuluh, profit atau keuntungan. Seorang siswa tidak selamanya dia akan belajar pada akhirnya mereka mendambakan sebuah pekerjaan yang layak dan bergengsi dengan penghasilan yang “wah”, keinginan itu tidak salah dan tidak perlu ditutup-tutupi selama niatnya positif dan tetap peduli pada orang lain yang berkekurangan. Anak-anak boleh bercita-cita menjadi orang yang kaya raya dengan cara yang halal, positif, dan mulia.
Sepuluh hal atau 10 P tersebut bisa menjadi orientasi nilai atau makna yang harus pengajar tanamkan untuk membantu siswa dalam meraih serta membangun kebermaknaan dalam proses belajar, sekolah, pendidikan atau keseluruhan aspek kehidupan siswa. Tentu saja kesepuluh hal yang minimal ini harus diraih dengan tidak meninggalkan prinsip keseimbangan dan keseluruhan (holistik). Selamat mencoba.
*)Rustana Adhi
Guru dan tim pengembang SMP PGII I Bandung
[ DOWNLOAD ]
Sekolah bukanlah semata-mata persiapan untuk kehidupan di masa depan tetapi sekolah adalah kehidupan itu sendiri.
Demikian sebuah ungkapan seorang tokoh pendidikan yang menarik untuk kita cermati berkenaan dengan membangun kebermaknaan dalam pembelajaran atau sekolah. Memiliki sebuah arti atau kebermaknaan dalam belajar menjadi salah satu faktor yang kuat dan juga menentukan dalam keberhasilan pendidikan. Seorang anak akan bersungguh-sungguh mengikuti proses pembelajaran ketika dia memahami tujuan, manfaat serta keuntungan dari proses pembelajaran tersebut bagi dirinya. Kebermaknaan yang ia miliki merupakan sumber motivasi kesungguhan belajarnya. Sedangkan siswa yang tidak punya arti proses belajar bagi dirinya sendiri, akan tercermin dari perilaku misalnya kurang respon terhadap materi di kelas, prestasi yang biasa saja, bahkan melakukan pelanggaran.
Apabila dikembalikan kepada hakikatnya, manusia adalah makhluk bermakna, apapun yang dilakukan oleh manusia harus berdasar dan memiliki makna tertentu. Untuk itulah upaya membangun kebermaknaan dalam proses pembelajaran merupakan sesuatu yang harus ada (conditio sine quanon). Kebermaknaan dalam proses pembelajaran dapat ditanamkan dan dibangun sesuai dengan tingkat penalaran peserta didik dengan berbagai metode atau pendekatan. Kebermaknaan yang dibangun haruslah menyeluruh, utuh (holistic), dan mendasar (substantif) yaitu meliputi hal yang kasat mata maupun yang abstrak, imanen maupun transenden.
Kebermaknaan yang sekiranya dapat ditanamkan pada siswa dalam proses pembelajarannya harus meliputi empat dimensi potensi dasar manusia, diantaranya fisiologis, intelektual, emosional, dan spiritual. Berdasarkan keempat dimensi tersebut penulis merumuskan kembali kebermaknaan yang akan diterapkan pada siswa di sekolah menjadi ‘10 P’. Pertama, pahala. Siswa harus yakin bahwa belajar atau sekolah adalah ibadah pada Allah Swt, dan apabila niatnya sudah ikhlas karena Allah pasti akan bernilai pahala sebagai investasi akhirat kelak. Seorang anak yang memaknai belajar dan sekolahnya sebagai ibadah dan berharap dapat pahala kebaikan dari Sang Pencipta, tentu akan sungguh-sungguh dan sabar terus berjuang, anak harus yakin bahwa mereka memperoleh pengampunan dari kesabarannya dengan jalan mencari ilmu. Anak harus yakin bahwa proses pembelajaran adalah sebagai “majelis ta’lim” dan di majelis ta’lim pasti akan turun rahmat Allah Swt berupa pahala kebaikan dan pengampunan Allah.
Ketiga, pengalaman. Setiap hari bagi anak adalah pengalaman baru, dan pengalaman hidup. Pengalaman juga merupakan hal yang sangat dibutuhkan oleh manusia dalam proses pembentukan kedirian dan kepribadiannya. Pastikan setiap anak selalu ingin menambah pengalaman yang positif dan penuh makna dalam hidupnya. Siswa yang banyak pengalaman yang berasal pembelajaran di sekolahnya akan berguna dalam kehidupannya kelak saat terjun di masyarakat. Keempat, pertemanan atau persahabatan. Seorang siswa selama dalam proses pendidikan di sekolah, memiliki banyak kesempatan untuk menjalin persahabatan yang positif dan konstruktif. Semakin banyak teman dan sahabat yang dapat dibangun tentu akan semakin baik kehidupan sosial seorang siswa. Hal ini sangat penting untuk membangun kecerdasan emosionalnya (EQ).
Kelima, pengetahuan. Hal ini jelas karena pembelajaran di sekolah merupakan wahana untuk pengembangan ilmu dan pengetahuan serta membangun proses penalaran anak. Keenam, pemahaman baru. Belajar bagi seorang anak merupakan sebuah proses yang terus menerus, boleh jadi pertemuan pertama dengan gurunya tidak paham pada pelajaran atau nilai tertentu, tetapi pada pertemuan berikutnya anak menjadi lebih paham. Pemahaman sangat penting untuk membangun sebuah keyakinan dan tindakan yang efektif dan aplikatif.
Ketujuh, penilaian. Seorang anak sangat membutuhkan penilaian baik kualitatif maupun kuantitatif dari guru atau wali kelasnya. Anak akan senang jika diperhatikan dan diberi penilaian yang adil oleh gurunya, dan anak sangat membutuhkan nilai atau penilaiannya. Kedelapan, pengakuan. Dalam proses pembelajaran, seorang anak akan mengekspresikan semua kemampuannya jika pendidik dengan adil memberikan pengakuan atas kemampuannya. Pengakuan bagi seorang siswa merupakan hal yang sangat mendasar, karena menyangkut harga diri seorang anak.
Kesembilan, prestasi. Belajar akan semakin memotivasi dan menantang, ketika anak memiliki keinginan untuk meraih prestasi tertentu. Misalnya, ingin lulus dengan angka sangat memuaskan, memperoleh rangking atau juara kelas atau mendapat hadiah menarik dari kedua orangtuanya. Prestasi merupakan salah satu dorongan kebermaknaan dalam proses pembelajaran.
Kesepuluh, profit atau keuntungan. Seorang siswa tidak selamanya dia akan belajar pada akhirnya mereka mendambakan sebuah pekerjaan yang layak dan bergengsi dengan penghasilan yang “wah”, keinginan itu tidak salah dan tidak perlu ditutup-tutupi selama niatnya positif dan tetap peduli pada orang lain yang berkekurangan. Anak-anak boleh bercita-cita menjadi orang yang kaya raya dengan cara yang halal, positif, dan mulia.
Sepuluh hal atau 10 P tersebut bisa menjadi orientasi nilai atau makna yang harus pengajar tanamkan untuk membantu siswa dalam meraih serta membangun kebermaknaan dalam proses belajar, sekolah, pendidikan atau keseluruhan aspek kehidupan siswa. Tentu saja kesepuluh hal yang minimal ini harus diraih dengan tidak meninggalkan prinsip keseimbangan dan keseluruhan (holistik). Selamat mencoba.
*)Rustana Adhi
Guru dan tim pengembang SMP PGII I Bandung
[ DOWNLOAD ]
MEMBANGUN ETIKA DAN MORALITAS PELAJAR
Baru-baru ini di Jawa Tengah terjadi perampokan terhadap sebuah toko dengan cara membobol tembok belakang toko yang dilakukan oleh sekawanan pelajar Madrasah Ibtidaiyah – setingkat SD. Mereka berkomoplot merampok pada malam hari hanya untuk menambah uang jajan. Mencermati dari berbagai kasus tindak kriminal dan dekandensi moralitas pelajar tersebut, dengan tidak mengurangi apresiasi terhadap pelajar yang masih menjaga ‘kesucian’ kesungguhan belajar dan prestasinya, maka perlu diambil langkah-langkah yang konstruktif dan sinergis diantara para orangtua, sekolah, masyarakat dan pemerintah, agar generasi muda kita dapat diselamatkan.
Keluarga sebagai dasar
Keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama. Dalam lingkungan keluargalah seorang anak pertama kali mendapatkan bekal berupa nilai-nilai tentang baik dan buruk dalam kehidupan. Orangtua sangat berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai dasar bagi bangunan budi pekerti, etika dan moralitas anak kelak dalam kehidupannya. Keluarga merupakan salah satu pilar penting bangsa dalam membangun warga negara yang berkualitas dan berintegritas.
Seorang remaja yang cukup mendapatkan kasih sayang dan bekal nilai yang cukup di rumah maka akan tenang, nyaman dan mantap secara nilai di luar rumah. Tetapi ketika di rumah tidak mendapatkan apa yang dibutuhkannya, di luar rumah akan menyerap apapun yang didapatkannya , yang menjadi permasalahan adalah, ketika nilai-nilai yang ada di luar sangat merusak jiwanya bahkan kehidupannya.
Perhatian yang cukup dan kasih sayang yang intens serta suasana yang dialogis antara anak dan orangtua adalah salah satu upaya yang efektif, untuk menjadikan para remaja lebih percaya pada orangtua dan keluarganya. Perlu dibangun rasa saling percaya antara seluruh anggota keluarga sehingga merasa nyaman dan dihargai.
Pembudayaan di sekolah
Sebagai rumah kedua setelah keluarga, sekolah berperan penting dalam menanamkan dan membekali nilai-nilai bagi seorang anak atau para remaja kita. Di sekolah para remaja berinteraksi dan bersosialisasi dengan teman dan guru-gurunya. Sekolah, merupakan laboratorium sosial bagi anak. Bahkan anak-anak lebih menyerap nilai-nilai dari teman sebayanya, dari orangtuanya, ketika orangtua tidak dapat mendekati anak-anaknya dengan pendekatan yang tepat.
Sekolah harus berperan sebagai pembangun karakter (character builder), dan tidak hanya sekedar menyebar pengetahuan (transfer of knowledge). Sekolah bukanlah semata-mata persiapan anak di masa depan, tetapi sekolah harus dijadikan kehidupan itu sendiri, jadi pada saat di sekolahlah penanaman nilai-nilai harus secara efektif dijalankan melalui kegiatan pembelajaran di dalam kelas maupun diluar kelas sehingga proses pendidikan dan pembudayaan berjalan dengan beriringan.
Pendidikan agama sebagai benteng
Dalam keadaan jaman yang semakin terbuka terhadap budaya luar, melalui berbagai media terutama internet, memang sangat riskan masuknya budaya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama maupun norma setempat.
Pada saat ini, para remaja begitu mudah untuk mengakses berbagai berita, gambar, film melalui situs-situs yang ada di internet. Satu-satunya jalan yang dapat mengendalikan pada remaja untuk tidak membuka situs-situs yang merusak adalah nilai-nilai keimanan dan agamanya. Jika pemahaman dan penanaman nilai-nilai iman dan taqwanya lemah, maka dapat dibayangkan yang akan terjadi berikutnya, sebagaimana laporan dari PKBI BKKBN diatas.
Penulis berpikir tampaknya mendesak, perlu segera dirumuskan pendidikan agama yang tidak hanya sebatas verbalistik tetapi lebih subtantif, membangun karakter yang memiliki integritas nilai-nilai. Pendidikan agama selama ini tidak berbeda dengan pelajaran lainnya yang hanya menyentuh aspek kognitif, tidak sampai pada dimensi afektif dan isoteris. Pendidikan agama selama ini baru pada tahap formalisme. Perlu penambahan paradigma yang sangat mendasar dalam upaya penanaman nilai-nilai agama pada remaja kita. Pendidikan agama merupakan hal yang mutlak dalam membangun etika dan moral para remaja kita, yang akan mewarisi di masa depan.
Spiritualisasi pendidikan dan pembelajaran
Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan diterapkannya konsep spiritualisasi pendidikan atau pembelajaran. Integritas antara iman dan ilmu, akal dan agama, hati dan pikiran adalah salah satu model agar pendidikan secara efektif mampu membangun pribadi yang utuh. Integrasi ilmu pengetahuan, tekonologi (IPTEK) dan iman, taqwa (IMTAQ), adalah hal yang mutlak dan mendesak untuk diterapkan pada saat ini.
Melalui keterpaduan antara IPTEK dan IMTAQ diharapkan mampu melahirkan para remaja disamping pintar juga berkarakter, disamping sukses juga shaleh. Bagaimanakah memadukan antara kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan fisik (PQ) dan kecerdasan spiritual (SQ).
Spiritualisasi pendidikan akan efektif jika seluruh pengampu berkepentingan pendidikan (stakeholders) sadar, yakin dan bekerjasama untuk memajukan model pendidikan yang utuh (holistik) dan terintegrasi. Pendidikan adalah proses yang sistemik, tidak mungkin keberhasilan pendidikan diraih maksimal, tanpa kerjasama dan keterlibatan semua pihak.
Membangun etika dan moral pelajar kita saat ini, merupakan hal yang sangat mendesak serta urgen dilaksanakan, jika tidak segera, maka bangsa Indonesia harus membayar harga sosial yang sangat mahal, berupa kehancuran dan kekacauan kehidupan bangsa di masa depan. Kekuatan sebuah bangsa adalah terletak pada bagaimana keadaan moralitas warga negaranya. Nabi Muhammad SAW pun diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak umat manusia. “Innamal buistu liutammamima makaarimal akhlak”
Wallahu ‘alam.*Rustana Adhi
Guru dan tim pengembang SMP PGII I Bdg .
[ Download ]
Langganan:
Postingan (Atom)